Rumah adat masyarakat Toraja disebut dengan Rumah Adat Tongkonan. Tongkonan bukan sekadar tempat tinggal, tapi punya makna yang sangat dalam bagi masyarakat Toraja. Nama “Tongkonan” sendiri berasal dari kata ‘tongkon’ yang artinya ‘duduk’ atau ‘tempat duduk bersama’. Arti kata tersebut menggambarkan fungsi rumah ini sebagai pusat berkumpul, berdiskusi, dan mengambil keputusan penting dalam keluarga atau masyarakat.
Rumah Adat Tongkonan dibangun menggunakan jenis kayu ulin atau kayu besi untuk seluruh struktur rumah seperti tiang-tiang penyangga, dinding, lantai, dan rangka atap. Jenis kayu ini cukup bagus karena tahan terhadap rayap dan cuaca. Selain kayu ulin, masyarakat Toraja biasanya juga menggunakan kayu surian. Selain kayu, bambu juga digunakan untuk membuat dinding bagian atas, anyaman dinding, dan material penutup atap.
Terakhir, masyarakat Toraja menggunakan serat alami dari pohon aren atau ijuk untuk atap Rumah Tongkonan. Ijuk dipilih karena daya tahannya terhadap air hujan, panas matahari, dan juga kemampuannya untuk memberikan sirkulasi udara yang baik di dalam rumah. Pemasangan ijuk dilakukan berlapis-lapis sehingga membentuk atap yang tebal dan kuat.